Kamis, 05 November 2015

MAKNA HITAM SEDULUR SIKEP DAN BANGUNAN PENDOPO KAMPUNG SAMIN

pendopo sedulur sikep
foto by : sariyono
Tak asing lagi bagi kita Pendopo Sedulur Sikep / pendopo kampung samin yang ada di Jl.Blora-Randublatung km 7 Karangpace, Ds.Klopoduwur, Kec.Banjarejo, Kab.Blora, bagi wisatawan lokal maupun luar daerah. Sering kita jumpai mahasiswa-mahasiswa dari berbagai Universitas di Indonesia yang melakukan penelitian tentang Sedulur SIkep, pemerhati budaya atau bahkan wisatawan yang hanya sekedar ingin berfoto di Pendopo Kampung Samin.

Wong samin atau yang sering disebut sedulur sikep yang mempunyai ciri khas pakaian serba hitam dan memakai ikat kepala. samin=sami-sami (sama-sama) Yang artinya kita sebagai manusia sama- sama derajatnya, Sehingga tak ada pemisah antara yang punya jabatan atau tidak, Tak ada perbedaan ras, golongan maupun agama, Karena kita sama sebagai manusia" .

sikep=rabi (nikah), jika diartikan secara luas dalam hidup diciptakan berpasangan ada pria ada wanita,ada bumi ada langit, ada siang ada malam dll, karena hidup untuk saling melengkapi. Sedangkan pakaian dan ikat kepala yang selalu di kenakan oleh Sedulur Sikep mengandung makna, hitam mengandung makna keluasan, kedalaman dan kerendahan hati, warna hitam adalah pengakuan diri pribadi bahwa manusia tidak ada yang bersih dan lepas dosa.Ikat kepala iket/udeng mempunyai makna " ngiket laku, batin lan pengucap supoyo mudeng uripe " ( mengikat atau menyelaraskan prilaku, pikiran dan ucapan agar paham akan hidupnya ), seperti yang dituturkan oleh Mbah Lasiyo selaku sesepuh sedulur sikep di karangpace, yang memiliki garis keturunan langsung dengan Mbah Buyud Engkrek cikal bakal Ds.Klopoduwur dan penyebar ajaran Sedulur Sikep di Blora khususnya dan di berbagai dearah lainnya.
Desa Klopoduwur sendiri memiliki pilosofi sebagai pedoman hidup yang mengajarkan tentang kejujuran, keiklasan, dan hidup apa adanya.

  • Glugu ( batang pohon kelapa ) artinya manusia harus mempunyai sifat lugu (apa adanya dan kejujuran dalam hidupnya (urip sak lugune ). 
  • Tataran ( tangga yang dibuat pada batang pohon kelapa ) artinya hidup adalah sebuah proses.
  • Tapas ( pembungkus calon buah kelapa ) artinya manusia harus mampu menyelaraskan prilaku,pikiran dan ucapan (ditata sing pas) . 
  • Manggar (bunga kelapa ) atinya hidup seharusnya dianggar-anggar atau dipertimbangkan masak-masak. 
  • Cengkir ( buah kelapa muda ) artinya hidup harus kuat pemikirannya (kenceng ing pikir) 
  • Degan (kelapa muda) artinya hidup harus dekat dengan buah hati (geganthilaning ati) yaitu Tuhan . 
  • Sepet (pembungkus kelapa) artinya manusia harus mampu menghadapi getir pahitnya kehidupan . 
  • Janur (daun kelapa berwarna kuning) artinya hidup untuk mencari Nur Illahi. 

November 2010 Pendopo sedulur sikep dibangun dengan anggaran dana 1,5 M ,berdiri di atas tanah seluas tak kurang 25 x 16 meter, sementara lantai bangunan pendopo seluas 10 x 10 meter, dengan 3 pijakan tangga menuju lantai. Luas bangunan kayu 9 x 9 meter, dengan ketinggian tiang yang seharusnya 7 meter namun hanya di buat 5 meter oleh pihak pemborong. Ketinggian 7 meter memiliki makna tersendiri dalam ajaran Sedulur Sikep. Tujuh, dalam bahasa Jawanya disebut "pitu" Ada makna pitutur (nasehat kebaikan),pitunjuk (petunjuk) maupun pitulung (pertolongan, sikap tolong menolong). Sementara 9, dalam ajaran Sedulur Sikep bermakna persaudaraan luas bahkan universal (seduluran sak alam-alam) . Karenanya, begitu anda berjumpa dengan warga di pendopo sedulur sikep, akan disapa dengan ucap salam seger waras ( semoga sehat jasmani dan rohani ) ,sedulur saking pundi (saudara dari mana). Sikap persaudaraan inilah yang menjadi kearifan lokal yang dijalankan turun-temurun hingga sekarang, Sebagaimana makna 9 x 9 di bangunan kayu pendopo itu. 

"Sembilan adalah 8 (delapan) saudara dan 1 (satu) diri kita sendiri, yaitu makna seduluran. Delapan saudara adalah 4 saudara yang ada di barat, timur, selatan dan utara (sesuai arah mata angin). Dua saudara berikutnya, yang terawat (kebaikannya) dan tak terawat (kebaikannya) "suket, godong, watu, gunung, kekayon, kutu-kutu walang atogo, ing sak lumahing bumi sak kureping langit pesasat sedulurku" . ( rumput, daun,batu, gunung, pepohonan, kutu dan sejenisnya yang ada di atas bumi di bawah langit adalah saudaraku) dan dua saudara lagi adalah kakang kawah dan adik ari-ari".Kakang kawah adalah makna kelahiran yang mendahului si jabang bayi. Sementara adik ari-ari adalah segumpal daging yang menyatu dengan jabang bayi melalui pusar. Adik ari-ari ini, dalam adat Jawa diritual dengan cara dikubur di depan rumah, dikurung, dan diberi penerangan alakadarnya".

Setelah bangunan pendopo berdiri tidak ada serah terima dari pihak mana yang bertanggung jawab merawat dan mengelola pendopo tersebut. 3 bulan berjalan dikarenakan listrik pendopo tidak ada yang membayar, dari pihak PLN mencabut listrik tersebut. kerena merasa bertanggung jawab kemudian Mbah Lasiyo konfirmasi ke PLN menanyakan alasan mencabut listrik dipendopo, kemudian dengan uang pribadi Mbah Lasiyo membayaran tunggakan pembayaran tersebut.

Dikemudian hari ada salah seorang pengunjung berbincang-bincang dengan Mbah Lasiyo menanyakan siapa yang merawat pendopo , kemudian mbah Lasiyo bercerita selama bangunan ini berdiri saya yang merawat dan bertanggung jawab termasuk membayar listrik pun uang saya pribadi karena tidak ada pihak yang bertanggung jawab, termasuk lampu yang matipun saya yang ganti dengan uang pribadi, mengepel dan menyapu adalah kegiatan rutin keluarga kami. Kami pun tidak mendapatkan upah dari pihak manapun karena kami lakukan dengan iklas, terang Mbah Lasiyo.

Meskipun sekarangan pembayaran listrik yang bertanggung jawab adalah pihak Dinas Pariwisata, akan tetapi hal-hal yang mengenai perawatan pendopo masih belum ada perhatian khusus dari pihak manapun, untuk merawat dan kebersihan pendopo masih dilakukan oleh keluarga Mbah Lasiyo dengan sukarela.
Kondisi bangunan pendopo pun sekarang memprihatinkan lantai keramik yang retak dan pecah jarak dengan tiang hingga 10cm, pagar dan kanan kiri gapura yang hampir runtuh. 


sarasean rutin sedulur sikep
foto by : dimas parikesit
Pendopo ini kerap dijadikan tempat sarasean rutin sedulur sikep yang kami sebut "nepoke balung pisah" menyatukan dan mengamalkan kembali ajaran sikep dari Mbah Engkrek, pada malam selasa dan malam jum'at, puncak acara sarasean di hari malam selasa kliwon. sembari menikmati hidangan rowotan (ubi-ubian) dan air kendhi, meraka berkumpul bercerita dan mengingat kembali wejangan-wejangan (petuah-petuah) dari Mbah Engkrek .

1 komentar: